Kejar Target Realisasi PAD Retribusi Pasar, Disperindag Kota Blitar Gelar Lomba Mewarnai Anak TK

www.LensaAktual.com.ǁJawaTimur,20 Juni 2026-Hingga Mei 2026, realisasi pendapatan asli daerah (PAD) retribusi pasar di Kota Blitar masih mencapai 33,97 persen.

Angka ini berarti sekitar Rp735 juta dari target yang ditetapkan Rp2,1 miliar.

Untuk itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar terus berupaya meningkatkan capaian pendapatan retribusi pasar dengan membuat beberapa trobosan.

Kepala Disperindag Kota Blitar, Parminto mengatakan, sejumlah terobosan diadakan untuk meningkatkan capaian pendapatan retribusi pasar.

Antara lain, menggandeng investor untuk menyelenggarakan event dengan memanfaatkan area pasar.

Seperti saat ini, Disperindag menggandeng pihak ketiga menggelar bazar di halaman Pasar Legi.

Disperindag juga mengadakan lomba mewarna untuk anak-anak TK se-Kota Blitar di lantai 2 Pasar Legi.

“Dengan kegiatan itu, harapannya, orang tua yang ikut mengantar anaknya dan lewat kios pasar tertarik untuk belanja,” kata Parminto, Jumat (19/6/2026).

Tak hanya itu, Disperindag juga menggelar belajar outbond anak-anak TK Pembina belanja di Pasar PON setiap minggu sekali.

Untuk meramaikan Pasar Wage, Disperindag mengadakan panggung musik tiap minggu.

Selain mengadakan event, kata Parminto, Disperindag juga melakukan revitalisasi beberapa pasar untuk menarik minat masyarakat.

Misalnya, rencana revitalisasi lantai 2 Pasar Legi tahun ini diharapkan mampu menarik minat investor berjualan di lokasi.

Termasuk rencana revitalisasi pasar kuliner juga diharapkan dapat mengubah tampilan yang lebih menarik dan benar-benar menjadi pujasera kuliner di Kota Blitar.

“Kami juga memberikan pelatihan pedagang agar bisa berjualan mengikuti tren saat ini, yaitu jualan secara online, baik live dan pembayaran lewat digital,” ujarnya.

Parminto berharap, dengan beberapa upaya tersebut, realisasi PAD retribusi pasar bisa mencapai target tahun ini.

Menurutnya, realisasi pendapatan retribusi pasar pada 2025 tidak memenuhi target.

Realisasi pendapatan retribusi pasar pada 2025 sekitar 92,08 persen atau Rp1,98 miliar dari target yang ditetapkan Rp2,15 miliar.

Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan realisasi pendapatan retribusi pasar pada 2025 tidak mencapai target.

Beberapa faktor itu, antara lain, pasar tradisional mulai sepi pembeli.

Dan ini terjadi hampir di semua pasar tradisional daerah lain, karena harus bersaing dengan jual beli online dan toko waralaba.

Lalu, kios maupun los sebagai obyek retribusi mulai kosong atau tutup berjualan karena kondisi pasar sepi pembeli.

Dikatakannya, minat masyarakat belanja langsung ke pasar tradisional jauh menurun dibandingkan dulu.

“Sekarang masyarakat lebih senang belanja di bakul ethek yang langsung ke rumah, lewat online, dan ke warung yang tersedia lengkap dalam satu tempat,” katanya.

 

 

 

Mungkin Anda Menyukai