ww.LensaAktual.com.ǁJawaTimur,23 April 2026-Pemerintah Kabupaten Jember menerjunkan puluhan ribu aparatur sipil negara (ASN) untuk melakukan verifikasi faktual data warga miskin ekstrem.
Namun verifikasi faktual ini tidak melibatkan verifikator dari Badan Pusat Statistik, atau tenaga sensus penduduk, namun memakai tenaga aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Jember.
Pemkab Jember menerjunkan 21.942 orang ASN di Lingkungan Pemkab Jember.
ASN yang dilibatkan dari semua unsur, guru, tenaga administrasi, keuangan, perencana, juga kepala dinas atau bagian, bahkan sampai Pj Sekda Jember.
Di tahap awal, puluhan ribu ASN ini melakukan verifikasi faktual di kelompok rumah tangga miskin ekstrem atau desil 1.
Jumlah rumah tangga miskin ekstrem di Kabupaten Jember, atau kelompok desil 1 mencapai 97.061 jiwa.
Sejak 19 April lalu, ASN diterjunkan melakukan verifikasi faktual. Verifikasi faktual untuk desil 1 akan berakhir pada 24 April 2026.
Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan, pelibatan ASN dalam verifikasi faktual ini sebagai bentuk penanganan darurat kemiskinan di Kabupaten Jember.
“Agar bantuan yang digelontorkan benar-benar tepat sasaran, dan berdampak secara signifikan nantinya,” ujar Fawait.
Temuan Data Tidak Valid
ASN yang menjadi ‘tenaga sensus’ dadakan ini pun memiliki kisah seru ketika melakukan verifikasi faktual.
Mereka berangkat ke lokasi verifikasi, berbekal data yang telah dibagikan oleh Pemkab Jember melalui aplikasi.
Setiap orang ASN rata-rata melakukan verifikasi faktual di lima KK atau lima lokasi.
Hermin Herawati, misalkan, bertugas melakukan verifikasi faktual di Kecamatan Sumberjambe.
Kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan terpinggir di Kabupaten Jember, karena di lereng Gunung Raung, dan berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso.
Hermin melakukan verifikasi ke tiga KK di tiga desa berbeda di Kecamatan Sumberjambe.
“Desa Jambearum, Sumberpakem, dan Randuagung,” tutur Hemin, Rabu (22/4/2026).
Meskipun berada di pelosok, Hermin cukup beruntung karena lokasi masih bisa dijangkau memakai kendaraan bermotor.
Apalagi, pihak Kecamatan Sumberjambe juga sudah meminta tolong perangkat desa, Dusun, RT dan RW, untuk memandu para ASN itu ke lokasi verifikasi.
Dari tiga lokasi yang didatangi Hermin, dia mendapatkan tiga hal berbeda.
Padahal berdasarkan data, ketiganya adalah warga miskin yang masuk kategori desil 1.
Kenyataan pertama yang didapatnya yakni, warga miskin yang tercamtum di Desa Jambearum ternyata sudah meninggal dunia sejak lima tahun lalu.
“Bahkan rumahnya sudah dirobohkan, setelah peringatan seribu harinya orang tersebut. Rumah dirobohkan karena tidak ada penghuninya lagi,” ujar Hermin.
Hal itu sempat membuatnya heran. Karena jika masuk keluarga miskin, dan andai sebelumnya menerima bantuan sosial, maka siapa yang menerima bantuan tersebut.
Hermin tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Dia pun melaporkan hasil temuan di lapangan ke aplikasi yang sudah disiapkan oleh Pemkab Jember.
Temuan kedua, adalah dia tidak menemukan nama yang tercantum di data yang dia pegang. Nama warga miskin itu adalah Tini, dari RT 00 RW 00 Desa Sumberpakem, Kecamatan Sumberjambe.
Nama tersebut tidak ada, yang itu dikuatkan oleh pengakuan perangkat desa setempat.
“Barulah yang di Desa Randuagung itu yang benar sesuai data. Dia memang masuk desil 1. Tidak punya MCK, pakai sungai. Lantai rumahnya juga tanah,” ujar Hermin.
Lewat verifikasi faktual itu, Hermin berharap bantuan sosial dari pemerintah nantinya benar-benar tepat sasaran kepada kelompok ini.
Cerita terbilang seru ketika verifikasi faktual juga datang dari Abdoe Rahman.
ASN Pemkab Jember yang bertugas di DPRD Jember itu melakukan verifikasi faktual di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo.
Daerah ini masuk dalam kawasan ‘terluar dan terjauh’ dari pusat Pemerintahan Jember.
Kawasan ini berada di pertemuan antara Gunung Gumitir dan Taman Nasional Meru Betiri, yang berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi.
“Saya naik sepeda motor trail, karena memang medannya ekstrem, berbukit naik turun dan masuk kawasan hutan,” ujar Abdoe.
Para ‘tenaga sensus’ di wilayah Desa Mulyorejo melakukan titik temu alias meeting point di Balai Desa Mulyorejo.
Di lokasi itulah, mereka melakukan pemetaan wilayah dan topografi lokasi.
“Saya kena di Baban Timur, yang jarak tempuhnya sekitar satu jam dari Balai Desa Mulyorejo. Lokasi ini cocok bagi yang suka berpetualang,” lanjut Abdoe sambil terkekeh.
Jalan yang dia lewati bukan jalan aspal, namun jalan berbatu dan terbilang sempit.
Sepeda motor matic dipastikan tidak nyaman dipakai di lokasi tersebut. Karenanya, mereka yang telanjur mengendarai sepeda motor matic, terpaksa ‘ngojek’ warga setempat.
“Sedangkan warga yang saya verifikasi ditemukan, dan memang sesuai masuk desil 1. Lantai rumahnya tanah, juga tidak punya MCK,” tutupnya.

