www.LensaAktual.com.ǁJawaTimur,30 Agustus 2026-Persaingan memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU mulai mengerucut.
Dari sejumlah nama yang sebelumnya muncul, kini dua figur disebut menjadi kandidat terkuat, yakni petahana Gus Yahya dan Ketua PWNU Jawa Timur Gus Kikin.
Di tengah menguatnya dua nama tersebut, posisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjadi sorotan.
Pasalnya, suara dari sejumlah kandidat yang memiliki kedekatan dengan PKB berpotensi menjadi penentu dalam pertarungan akhir.
Hal itu disampaikan pengamat Nahdlatul Ulama dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Moch Mubarok Muharram, dalam wawancara di sela pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Menurut Mubarok, pada awalnya terdapat sekitar delapan nama yang muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan kontestasi semakin mengerucut menjadi dua nama utama, yakni Gus Kikin dan Gus Yahya.
“Sekarang kelihatannya kandidat yang kuat cuma dua, yaitu Gus Kikin yang di-backup oleh Gus Ipul lalu Gus Yahya sendiri,” ujar Mubarok.
Mubarok menyebut terdapat sejumlah figur yang memiliki kedekatan dengan PKB, di antaranya Gus Salam, KH Imam Jazuli, dan Gus Yusuf.
Ketiganya dinilai memiliki basis dukungan yang berbeda dan berpotensi menjadi bagian penting dalam kalkulasi politik menjelang pemilihan.
Menurut dia, suara dari kelompok tersebut dapat menjadi modal tawar PKB dalam menentukan arah dukungan pada tahap akhir muktamar.
“Ketiga kandidat ini akan terus mencari suara sampai besok. Kemungkinan suaranya nanti akan dikapitalisasikan untuk menjadi bargaining position politik PKB dalam muktamar ini,” katanya.
Mubarok menilai PKB tidak akan sekadar mempertimbangkan siapa yang menang dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.
Partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar atau Cak Imin itu, menurutnya, juga akan menghitung keuntungan politik yang dapat diperoleh setelah muktamar.
Kalkulasi tersebut bisa berkaitan dengan program, kebijakan, hingga komposisi kepengurusan PBNU.
“Gus Imin dalam kalkulasi politiknya tentu tidak mempertimbangkan emosi, tetapi mempertimbangkan keuntungan politik,” ujar Mubarok.
Ia menilai, apabila Gus Kikin dan Gus Yahya sama-sama memiliki kekuatan yang berimbang, posisi PKB menjadi semakin penting. Kedua kubu berpotensi melakukan pendekatan untuk mendapatkan dukungan.
Gus Kikin Diuntungkan Jaringan Gus Ipul
Di sisi lain, Mubarok menilai Gus Kikin memiliki sejumlah keunggulan dalam menggalang dukungan.
Salah satunya adalah dukungan dari Gus Ipul yang dinilai memiliki pengalaman dalam dinamika sejumlah muktamar NU sebelumnya.
“Gus Ipul itu setiap muktamar selalu terlibat menjadi aktor penting. Paling tidak tiga atau empat kali,” kata Mubarok.
Menurut dia, pengalaman tersebut membuat Gus Ipul memahami karakteristik dan pola penggalangan dukungan dari berbagai PCNU di sejumlah daerah.
Selain itu, Gus Kikin dinilai memiliki keuntungan karena Muktamar ke-35 NU digelar di Jombang, tepatnya di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Mubarok juga menyebut kedekatan Gus Kikin dengan sejumlah tokoh lokal di lingkungan Tambakberas menjadi salah satu faktor yang dapat membantu konsolidasi dukungan.
Sementara itu, Gus Yahya memiliki modal sebagai petahana yang telah memimpin PBNU selama lima tahun.
Menurut Mubarok, posisi tersebut membuat Gus Yahya memiliki jaringan komunikasi dengan pengurus NU di berbagai wilayah Indonesia.
“Gus Yahya ini lima tahun sebagai Ketua Umum PBNU. Jelas dia punya interaksi, punya komunikasi dengan PW dan PC se-Indonesia dan juga punya jaringan,” ujarnya.
Mubarok juga menilai dukungan elite politik dan pemilik modal dapat menjadi faktor yang ikut memengaruhi dinamika muktamar.
Ia mencontohkan kebutuhan pembiayaan delegasi dari berbagai cabang NU yang datang ke arena muktamar.
Menurutnya, besarnya jumlah peserta dari sejumlah cabang membuat aspek pembiayaan menjadi bagian dari dinamika politik yang tidak dapat diabaikan.
Bukan Hanya Ketua Umum, Rais Aam Jadi Kunci
Persaingan dalam Muktamar NU kali ini juga tidak hanya menyangkut kursi Ketua Umum PBNU. Posisi Rais Aam dinilai menjadi bagian penting dalam negosiasi antarkekuatan.
Mubarok menyebut nama Kiai Said Aqil sebagai salah satu figur yang dekat dengan PKB untuk posisi Rais Aam. Selain itu, muncul pula nama Kiai Miftah dan Kiai Nurul Huda Jazuli.
Menurutnya, paket antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU masih sangat mungkin berubah hingga tahap akhir.
“Paketnya belum jelas. Yang pasti paket utama sekarang Gus Kikin sama Kiai Miftah. Tapi bisa jadi nanti tidak itu lagi, melihat perkembangan dinamika,” katanya.
Mubarok juga menyebut Kiai Nurul Huda Jazuli dari Al-Falah Ploso berpotensi menjadi figur yang dapat diterima berbagai kelompok.
Namun, peluang tersebut masih bergantung pada kesediaan Kiai Nurul Huda Jazuli untuk maju.
Faktor lain yang dapat mengubah peta persaingan adalah mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.
Dalam wawancara tersebut, Mubarok menyebut adanya wacana agar Ketua Umum Tanfidziyah tidak hanya ditentukan melalui suara muktamirin, tetapi melalui Ahwa.
Jika mekanisme tersebut diterapkan, menurutnya, kekuatan Gus Yahya maupun Gus Kikin masih bisa berubah.
“Kalau itu, petanya beda lagi. Bisa jadi Gus Yahya sudah dianggap menang melalui muktamirin, belum tentu menang melalui Ahwa. Sebaliknya, Gus Kikin juga bisa berubah,” jelasnya.
Karena itu, Mubarok mengingatkan agar peta persaingan tidak dianggap sudah final.
Menurutnya, dinamika politik di arena muktamar masih sangat mungkin berubah hingga detik-detik terakhir.
“Jangan dianggap seolah-olah sudah selesai. Suaranya belum tentu masih ada hari ini dan besok,” katanya.
Dengan dua nama yang kini menguat, pertanyaan terbesar menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU adalah ke mana arah dukungan PKB.
Jika suara kelompok yang dekat dengan PKB benar-benar menjadi penentu, keputusan Cak Imin dan elite PKB pada tahap akhir muktamar berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan siapa yang akan memimpin PBNU untuk lima tahun mendatang.
Mubarok berharap siapa pun yang terpilih nantinya mampu merangkul seluruh kelompok yang terlibat dalam kontestasi.
“Saya berharap siapa yang terpilih itu juga merangkul siapa pun yang berkontestasi. Semua unsur dilibatkan untuk berkontribusi membangun NU ke depan lebih baik,” ujarnya.
