MBG Makan Korban Lagi, Puluhan Siswa di Trenggalek Mual dan Diare, Menunya Acar hingga Wortel

www.LensaAktual.com.ǁJawaTimur,16 September 2026-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) makan korban lagi.

Puluhan siswa dan guru di SMP-MA Global Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek diduga mengalami keracunan seusai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Reaksi yang ditumbulkan tidak langsung, melainkan baru malam hari. Mereka mengalami mual dan diare berulang kali.

Keluhan tersebut dilaporkan pada Selasa (15/9/2026), sehari setelah penerima manfaat menyantap menu MBG yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangan, Karangan, yang dikelola Yayasan Mulia Hiroku Gakkou.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek sekaligus Asisten I Setda Trenggalek, Sunarto, menerangkan laporan tersebut diterima setelah sejumlah penerima manfaat mengeluhkan diare dan sakit perut.

“Awalnya ada laporan dari penerima manfaat yang ada di SMP dan MA Global, bahwa ada sebagian muridnya yang terkena keluhan berupa diare. Lalu, ada sakit perut, dan lain sebagainya seperti itu,” beber Sunarto, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, dugaan keterkaitan keluhan tersebut dengan makanan MBG masih dalam proses penelusuran.

Pasalnya, menu yang diduga berkaitan dengan keluhan tersebut merupakan makanan yang dikonsumsi pada Senin (14/9/2026), sedangkan menu MBG untuk Selasa belum dikonsumsi saat laporan diterima.

“Data di catatan sebanyak 77 anak ya. Ini diduga dari proses makan MBG yang sebelumnya. Sebab waktu untuk hari itu belum dikonsumsi, seperti itu,” ulasnya.

Usai menerima laporan, tim Satgas MBG bersama koordinator wilayah (Korwil), Dinas Kesehatan, dan Puskesmas mendatangi lokasi untuk melakukan penelusuran terhadap penerima manfaat.

Sunarto menyebut, penanganan terhadap penerima manfaat yang mengalami keluhan menjadi prioritas. Setelah itu, tim melakukan pelacakan terhadap penerima manfaat lain untuk mengetahui sebaran keluhan.

“Terus kemudian kita lakukan penelusuran pada penerima manfaat, yaitu sekitar 1.000 sekian. Itu yang masih terdeteksi hanya itu tadi, hanya 77 orang tersebut,” ungkapnya.

Sunarto mengaku Menu MBG yang disantap penerima manfaat pada Senin tersebut terdiri atas ayam bumbu rendang tanpa santan.

Lalu, ada acar timun dan wortel, tempe goreng, serta melon.

Dikatakannya, guna mengetahui kemungkinan penyebab munculnya keluhan, tim akan melakukan pemeriksaan terhadap SPPG sekaligus menelusuri proses penyediaan makanan sejak bahan baku diterima hingga makanan sampai kepada penerima manfaat.

“Nah, di sini nanti kita cari. Untuk kasus seperti ini biasanya kita seperti mirip audit, kita catat nanti proses mulai dari bahan itu datang sampai nanti penerima manfaat,” akuinya.

Selain melakukan pemeriksaan terhadap SPPG, sampel makanan juga akan diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Sampel tersebut nantinya dikirim ke Surabaya karena fasilitas pemeriksaan dinilai lebih lengkap.

“Lab-nya nanti kan diambil, nanti tetap dikirim ke Surabaya yang cukup lengkap ya. Jadi nanti akan dicek beberapa bakteri,” imbuhnya.

Sunarto memaparkan, pemeriksaan di laboratorium milik Pemerintah Kabupaten Trenggalek memiliki kemampuan mendeteksi sejumlah parameter, termasuk bakteri E. coli.

Sedangkan pemeriksaan di Surabaya dapat dilakukan terhadap lebih banyak jenis bakteri sekaligus membantu menelusuri kemungkinan sumber penyebab gangguan kesehatan.

“Jika di sini lab Pemkab Trenggalek hanya bisa mendeteksi beberapa saja, seperti E. coli. Namun di Surabaya kan lab-nya lengkap, terus kemudian nanti di sana ada analisis penyebab itu dari mana, seperti itu,” ulasnya.

Satgas MBG Trenggalek juga telah melaporkan insiden tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN).

Sunarto menyebut SPPG yang mengalami insiden dapat berisiko mendapatkan penghentian sementara atau suspend, namun keputusan tersebut masih menunggu perkembangan hasil pemeriksaan.

“Lalu kita juga tetap melakukan pemeriksaan terhadap SPPG. Dan ini sudah dilaporkan ke BGN Pusat, biasanya akan berisiko terjadinya suspend. Tapi nanti kita tunggu nanti perkembangannya seperti apa,” ulasnya.

Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami 77 penerima manfaat tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut.

Satgas MBG belum menyimpulkan bahwa keluhan tersebut disebabkan oleh menu MBG sebelum hasil pemeriksaan laboratorium tersedia.

 

 

Mungkin Anda Menyukai