Hampir 150 Hektare Sawah di Jatim Gagal Panen Akibat Kekeringan, Pemprov Siapkan Bantuan Benih

www.LensaAktual.com.ǁJawaTimur,20 September 2026-Lahan pertanian merasakan dampak kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Jawa Timur.

Pasalnya, hingga 10 September 2026, tercatat 3.856 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan.

Dari jumlah tersebut, lahan tanaman padi yang terdampak mencapai 597,11 hektare.

Sementara lahan padi yang sudah mengalami puso atau gagal panen tercatat 149,95 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno mengatakan, kondisi lahan terdampak tidak seluruhnya berarti mengalami gagal panen.

“Itu yang terdampak. Belum tentu yang namanya terdampak itu kemudian akhirnya puso. Puso itu ya sudah gagal panen tidak bisa diselamatkan,” kata Heru, Jumat (16/9/2026).

Sebagai langkah antisipasi terhadap lahan yang mengalami puso, Pemprov Jatim telah menyiapkan anggaran bantuan benih melalui P-APBD 2026.

Bantuan tersebut disiapkan untuk lahan seluas 1.000 hektare.

“Kita siapkan ada 1.000 hektare. Semoga saja tidak sampai 1.000 hektare. Karena perhitungan kita kalau sampai September ini baru 149,95 hektare, maka Oktober sudah ada air, kira-kira naiknya tidak terlalu banyak. Kira-kira begitulah,” ujar Heru.

Heru berharap, luasan lahan yang mengalami puso tidak bertambah signifikan.

Sebab, puncak musim kekeringan berdasarkan prediksi BMKG berlangsung pada Agustus-September.

Ia berharap hujan mulai turun pada Oktober 2026 meskipun belum terjadi secara merata di seluruh wilayah Jawa Timur.

“Ketika air itu kurang, maka tentunya produksinya juga kurang bagus. Kalau kita bicara kekeringan di BMKG, masa puncaknya ini kan pada bulan-bulan Agustus-September,” jelasnya.

“Semoga saja nanti Oktober 2026 sudah mulai ada hujan walaupun belum merata,” imbuh Heru.

Kondisi kekeringan juga menjadi perhatian karena BMKG memprediksi adanya El Nino pada tahun 2026.

Menurut Heru, fenomena tersebut diprediksi ekstrem dan lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sehingga perlu diantisipasi, khususnya terhadap sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

“Yang katanya El Nino itu ekstrem dan lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya. Tentu ini bagian dari perhatian kita untuk mengantisipasinya. Karena komoditas pertanian kita itu kan memang sumber utama untuk kehidupannya itu kan air,” katanya.

Berbagai langkah antisipasi, kata Heru, sebenarnya telah dilakukan sejak 2025 hingga awal 2026.

Pemprov Jatim juga telah melakukan rapat bersama seluruh bupati dan wali kota untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap pertanian.

“Kemudian barusan kira-kira bulan Agustus 2026 Pak Menteri Pertanian juga hadir di Jawa Timur dengan hal-hal yang sama. Karena Jawa Timur adalah salah satu lumbung pangan terutama untuk padi,” tambahnya.

Dengan bantuan benih yang telah disiapkan, Pemprov Jatim mengantisipasi agar lahan padi yang mengalami puso dapat kembali ditanami apabila kondisi air telah memungkinkan.

 

 

 

Mungkin Anda Menyukai